Selasa, 19 Oktober 2010

Aplikasi Teori Kebutuhan Abraham Maslow dan Mc Clelland di Sekolah


Nama              : Purwo Herlianto
NIM                : 1301408057
Prodi               : Bimbingan dan Konseling, S1
MK                 : Psikologi Pendidikan

Tugas Individu
Teori Kebutuhan menurut Abraham Maslow dan Mc Clelland
A.    Teori kebutuhan menurut Maslow
Berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan yakni :
1.         Kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex
2.         Kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual
3.         Kebutuhan akan kasih sayang (love needs)
4.         Kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status
5.         aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.

Adapun kemungkinan aplikasi teori kebutuhan menurut  Maslow sebagai berikut :
1. Pemenuhan Kebutuhan Fisiologis:
·      Menyediakan program makan siang yang murah atau bahkan gratis.
·      Menyediakan ruangan kelas dengan kapasitas yang memadai dan temperatur yang tepat
·      Menyediakan kamar mandi/toilet dalam jumlah yang seimbang.
·      Menyediakan ruangan dan lahan untuk istirahat bagi siswa yang representatif.
2. Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman:
·      Sikap guru: menyenangkan, mampu menunjukkan penerimaan terhadap siswanya, dan tidak menunjukkan ancaman atau bersifat menghakimi.
·      Adanya ekspektasi yang konsisten
·      Mengendalikan perilaku siswa di kelas/sekolah dengan menerapkan sistem pendisiplinan siswa secara adil.
·      Lebih banyak memberikan penguatan perilaku (reinforcement) melalui pujian/ ganjaran atas segala perilaku positif siswa dari pada pemberian hukuman atas perilaku negatif siswa.
3. Pemenuhan Kebutuhan Kasih Sayang atau Penerimaan:
a. Hubungan Guru dengan Siswa:
·      Guru dapat menampilkan ciri-ciri kepribadian : empatik, peduli dan intereres terhadap siswa, sabar, adil, terbuka serta dapat menjadi pendengar yang baik.
·      Guru dapat menerapkan pembelajaran individua dan dapat memahami siswanya (kebutuhan, potensi, minat, karakteristik kepribadian dan latar belakangnya)
·      Guru lebih banyak memberikan komentar dan umpan balik yang positif dari pada yang negatif.
·      Guru dapat menghargai dan menghormati setiap pemikiran, pendapat dan keputusan setiap siswanya.
·      Guru dapat menjadi penolong yang bisa diandalkan dan memberikan kepercayaan terhadap siswanya.
b. Hubungan Siswa dengan Siswa:
·      Sekolah mengembangkan situasi yang memungkinkan terciptanya kerja sama mutualistik dan saling percaya di antara siswa
·      Sekolah dapat menyelenggarakan class meeting, melalui berbagai forum, seperti olah raga atau kesenian.
·      Sekolah mengembangkan diskusi kelas yang tidak hanya untuk kepentingan pembelajaran.
·      Sekolah mengembangkan tutor sebaya
·      Sekolah mengembangkan bentuk-bentuk ekstra kurikuler yang beragam.
4. Pemenuhan Kebutuhan Harga Diri:
a.  Mengembangkan Harga Diri Siswa
·      Mengembangkan pengetahuan baru berdasarkan latar pengetahuan yang dimiliki siswanya (scaffolding)
·      Mengembangkan sistem pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa
·      Memfokuskan pada kekuatan dan aset yang dimiliki setiap siswa
·      Mengembangkan strategi pembelajaran yang bervariasi
·      Selalu siap memberikan bantuan apabila para siswa mengalami kesulitan
·      Melibatkan seluruh siswa di kelas untuk berpartisipai dan bertanggung jawab.
·      Ketika harus mendisiplinkan siswa, sedapat mengkin dilakukan secara pribadi, tidak di depan umum.
b. Penghargaan dari pihak lain
·      Mengembangkan iklim kelas dan pembelajaran kooperatif dimana setiap siswa dapat saling menghormati dan mempercayai, tidak saling mencemoohkan.
·      Mengembangkan program “star of the week”
·      Mengembangkan program penghargaan atas pekerjaan, usaha dan prestasi yang diperoleh siswa.
·      Mengembangkan kurikulum yang dapat mengantarkan setiap sisiwa untuk memiliki sikap empatik dan menjadi pendengar yang baik.
·      Berusaha melibatkan para siswa dalam setiap pengambilan keputusan yang terkait dengan kepentingan para siswa itu sendiri.
c. Pengetahuan dan Pemahaman
·      Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengeksplorasi bidang-bidang yang ingin diketahuinya.
·      Menyediakan pembelajaran yang memberikan tantangan intelektual melalui pendekatan discovery-inquiry
·      Menyediakan topik-topik pembelajaran dengan sudut pandang yang beragam
·      Menyediakan kesempatan kepada para siswa untuk berfikir filosofis dan berdiskusi.
d. Estetik
·      Menata ruangan kelas secara rapi dan menarik
·      Menempelkan hal-hal yang menarik dalam dinding ruangan, termasuk di dalamnya memampangkan karya-karya seni siswa yang dianggap menarik.
·      Ruangan dicat dengan warna-warna yang menyenangkan
·      Memelihara sarana dan pra sarana yang ada di sekeliling sekolah
·      Ruangan yang bersih dan wangi
·      Tersedia taman kelas dan sekolah yang tertata indah
5. Pemenuhan Kebutuhan Akatualisasi Diri
·      Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk melakukan yang terbaiknya
Memberikan kekebasan kepada siswa untuk menggali dan menjelajah kemampuan dan potensi yang dimilikinya
·      Menciptakan pembelajaran yang bermakna dikaitkan dengan kehidupan nyata.
·      Perencanaan dan proses pembelajaran yang melibatkan aktivitas meta kognitif siswa.
·      Melibatkan siswa dalam proyek atau kegiatan “self expressive” dan kreatif

B.    Teori kebutuhan menurut Mc. Clelland
Beberapa besar kebutuhan tersebut bisa digolongkan sebagai baik prestasi, afiliasi, atau kekuasaan.
1.      Prestasi
Orang-orang dengan kebutuhan tinggi untuk berprestasi (nach) berusaha untuk unggul dan dengan demikian cenderung menghindari baik rendah risiko dan situasi berisiko tinggi. Berprestasi menghindari situasi resiko rendah karena mudah mencapai keberhasilan bukan prestasi asli. Dalam proyek-proyek berisiko tinggi, berprestasi melihat hasil sebagai salah satu kesempatan daripada seseorang upaya sendiri. Berprestasi individu tinggi lebih suka pekerjaan yang memiliki kemungkinan keberhasilan sedang, idealnya kesempatan 50%. Achiever membutuhkan umpan balik berkala untuk memonitor perkembangan prestasi mereka. Mereka lebih baik untuk bekerja sendiri atau dengan berprestasi tinggi lainnya.
2.      Afiliasi
Mereka yang memiliki kebutuhan tinggi untuk afiliasi (Naff) memerlukan hubungan yang harmonis dengan orang lain dan harus merasa diterima oleh orang lain. Mereka cenderung sesuai dengan norma-norma kelompok kerja mereka. lebih suka bekerja Naff tinggi yang menyediakan interaksi pribadi yang signifikan. Mereka melakukan dengan baik dalam pelayanan pelanggan dan situasi interaksi klien.
3.      Kekuasaan
Seseorang kebutuhan daya (nPow) dapat salah satu dari dua jenis - pribadi dan kelembagaan. Mereka yang membutuhkan kekuatan pribadi ingin orang lain langsung, dan ini perlu sering dianggap sebagai tidak diinginkan. Orang yang membutuhkan daya kelembagaan (juga dikenal sebagai kekuatan sosial) ingin mengatur usaha orang lain untuk memajukan tujuan organisasi.  Manajer dengan kebutuhan tinggi untuk daya kelembagaan cenderung lebih efektif daripada mereka yang memiliki kebutuhan tinggi untuk kekuatan pribadi.

Sumber :
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.netmba.com/mgmt/ob/motivation/mcclelland/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar